Masih ditengah bulan suci ramadhan ini mari kita belajar lebih dalam tentang arti sebuah makanan untuk mahluk hidup. Ya, makanan adalah kunci utama bagaimana mahluk hidup akan tumbuh dan berkembang biak, dan makanan merupakan hal yang sangat penting bagi semua mahluk hidup didunia, dan ikan lele adalah salah satunya. Dengan demikian berhasil tidaknya budidaya ikan lele tergantung pada pakan untuk menunjang pertemubuhan ikan lele tersebut. Dengan itu semua saya akan memberikan ulasan tentang Cara Buat Pakan LeleSendiri Sebagai Pakan Alternatif Sukses Budidaya Ikan Lele. Karna saya anggap hal ini paling vital guna tercapainya suatu target panen yang berhasil.
Pelet/pakan ikan adalah hal yang paling bokok di dunia budidaya ikan lele, bahkan tidak hanya ikan lele saja yang membutuhkan pelet tersebut, semua ikan yang dibudidaya di dalam kolam pembesaran pastinya memerlukan pakan tersebut. Di tengah ini semua, tingginya harga pakan adalah kendala utama untuk berkecimpung di dunia perikanan, bahkan petani kecil semacam kita juga memiliki kendala demikian. Hal ini tentunya dikeluhkan oleh para mitra budidaya! Untuk mengatasi problem tersebut, saya akan memberikan tips cara buat pakan lele sendiri, sedikit unik tentunya ulasan disini, Ya, kita akan membuat pakat dengan sendiri untuk mengganti pelet buatan pabrik. Pembuatan pakan ini pada dasarnya ada dua macam, yaitu pembuatan pakan sendiri dengan bahan utama dan pembuatan pakan sendiri dengan bahan sisa.
Kandungan Nutrisi Pada Pakan Ikan Lele Kandungan nutrisi pakan ikan lele harus wajib memenuhi perbandingan pemberian pakan dengan penambahan bobot ikan lele kurang dari satu (Feed Conversion Ratio/FCR>1), maksudnya : jika kita memberi pakan ikan lele sebanyak 1Kg, maka bobot ikan yang dihasilkan akan mencapai pertambahan 1Kg. Dengan semakin kecilnya rasio FCR-nya, maka berarti semakin baik kandungan gizi pada pakan tersebut.
Jika kita buat pakan lele sendiri untuk mengganti pelet sebagai pakan utama, maka wajib dari pakan tersebut untuk mengandung komponen dan gizi yang ada didalam pelet pabrikan, seperti ; protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Ikan lele ini termasuk jenis ikan karnivora yang ditakdirkan untuk memakan daging, dan kebutuhan protein pada ikan lele sangat tinggi hingga mencapai 32% dari berat pakan yang dimakannya (SNI).
Lemak : Dibutuhkan sebagai energi tambahan yang penting, furngi dari lemak juga sebagai pelarut beberapa vitamin didalam tubuh ikan lele, dan juga sebagai keseimbangan kelangsungan hidup ikan lele mengapung didalam air.
Karbihidrat : Mengandung senyawa serat yang kasar dan bahan bebas tanpa mengandung nitrogen. Fungsi utama dari karbohidrat adalah sebagai sumber energi utama pada mahluk hidup.
Vitamin : Berguna untuk menjaga daya tahan tubuh ikan lele agar selalu fit dan tidak mudah terserang penyakit.
Mineral : Terdiri dari makromineral dan mikromineral. Makromineral yang terkandung dalam tubuh ikan diantaranya kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), fosfor (K), klorida (Cl) dan sulfur (S). Sedangkan mikromineral antara lain besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), iodium (I), kobalt (Co), nikel (Ni) fluor (F), krom (Cr), silikon (Si) dan selenium (Se).
Berikut tabel berbagai bahan beserta kandungannya dalam satuan persen (%):
Bahan
Protein
Lemak
Tepung Ikan
62.99
8.4
Tepung Kedelai
36,6
14.30
Bungkil Kelapa
18.46
15.73
Tepung Jagung
10.40
0.53
Dedak Halus
15.58
6.8
Tepung Tapioka
2.6
2.6
Misal kita akan membuat pakan lele sendiri dengan kombinasi 50 kg tepung ikan (kandungan protein 62,9%) dengan 50 kg katul halus (15,58%), apakah mungkin kombinasi bahan-bahan ini memenuhi kebutuhan protein pada ikan lele?
• Jumlah protein yang terdapat pada tepung ikan = 62,9% x 50 kg = 31,45 kg • Jumlah protein yang terkandung pada katul halus = 15,58 x 50 kg = 7,79 kg • Jumlah total protein dari tepung ikan dan katul halus = 39,24 kg • Berarti dari jumlah berat bahan baku 100 kg akan kita didapatkan 39,24 kg atau 39,24% dari campuran bahan-bahan tersebut adalah protein. Tentunya kombinasi pencampuran bahan-bahan ini mampu mencukupi kebutuhan konsumsi protein pada ikan lele yang jumlahnya 30% dari makanan yang dikonsumsi. • Untuk menambah kandungan nutrisi dapat kita tambahkan berbagai minyak ikan yang dijual dipasaran.
Pakan Lele Tambahan Ikan lele memerlukan banyak makanan untuk terus hidup dan berkembang, tentunya pakan yang berkualitas akan membuat ikan lele ini cepat dalam masa pembesaran. Selain mengkonsumsi pakan utama seperti yang saya jelaskan diatas, ikan lele ini juga memerlukan pakan tambahan agar kelangsungan hidup ikan lele lebih baik dan memiliki pertumbuhan yang optimal. Namun pakan tambahan ini kita sendiri yang akan mengira-ngira kandungan yang ada pada pakan tambahan tersebut. Dibawah ini akan saya sebutkan apa saja yang bisa kita gunakan sebagai pakan tambahan untuk ikan lele.
Limbah Peternakan Unggas Jika Anda merupakan seorang pembudidaya ikan lele, dan lokasi Anda tidak jauh dari tempat peternakan unggas, maka Anda termasuk orang yang beruntung. Ternak unggas ini meliputi binatang bersayap berkaki dua seperti : ayam, bebek, puyuh,dll. Limbah yang dimaksud disini adalah bangkai atau binatang ternak yang telah mati. Unggas yang telah mati sangat bagus untuk makanan tambahan ikan lele, karena ikan lele ini pada dasarnya adalah ikan pemakan daging. Namun ikan lele juga dapat memakan segalanya, sesuatu yang ada disekitar lingkungan hidupnya.
Ayam Tiren Sebagai Pakan Tambahan Ikan Lele
Unggas yang mati dapat kita berikan untuk ikan lele dengan cara direbus dan dibersihkan bulu-bulunya terlebih dahulu, hal ini bertujuan agar menghindari terjangkitnya penyakit karena bakteri dan kuman jahat akan mati jika direbus, sedangkan membersihkan bulu-bulu terlebih dahulu bertujuan untuk menjaga kebersihan kolam. Setelah unggas-unggas tersebut sudah bersih dan siap diberikan untuk pakan ikan lele, ikatlah dengan tali dari kedua kaki unggas tersebut, lalau celupkan kedalam kolam ikan lele, otomatis para gerombolan ikan lele ini akan beramai-ramai memakan unggas yang telah direbus dan dibersihkan tersebut. Pemakaian tali berguna agar setelah beberapa hari daging unggas akan bersih dan tinggal tulang belulang, dan tali ini berguna untuk menarik kembali sisa-sisa tulang kemudian kita mudah untuk membuangnya.
Keong Mas dan Bekicot Pakan tambahan ini juga dapat kita hasilkan dari binatang bercangkang yang tidak banyak digunakan oleh masyarakat, keong dapat meliputi keong mas atau keng sawah. Untuk mendapatkan keong-keong ini tidaklah sulit, dapat kita jumpai di sungai-sungai, sawah, dan selokan disepanjang tempat tinggal kita. Jika kita malas untuk mencarinya, tinggal membuat plang didepan rumah Anda dengan manyatakan terima/penadah keong mas/sawah dengan harga nego, tentunya biaya yang akan kita keluarkan lebih murah karena binatang ini tidak terpakai dilingkungan hidup kita. Sedangkan bekicot juga sangat mudah didapatkan disekitar area pekarangan rumah, dan kita tahu bahwa bekicot dan keong ini mengandung protein yang sangat tinggi, sehingga ini dapat mempercepat tumbuhnya ikan lele dikolam pembesaran Anda.
Keong Mas Sebagai Pakan Alternatif Ikan Lele
Untuk pemberiannya, keong dan bekicot ini mirip seperti unggas yang telah mati, keong dan bekicot tidak langsung kita berikan pada lele karena ada cangkang yang akan melindungi mereka, bahkan keong ini jika asal Anda masukka kedalam kolam lele akan hidup dan berkembang biak, dan pada akhirnya Anda akan melakukan budidaya ikan lele dan keong mas. Rebus keong-keong dan para bekicot yang sudah Anda kumpulkan, supaya mudah untuk pengambilan daging dari cangkangnya, selanjtnya daging keong dan bekicot siap untuk diberikan pada ikan lele untuk digunakan sebagai pakan tambahan,
Ikan Rucah Jika lokasi budidaya ikan lele anda juga berdekatan dengan TPA (tempat pelelangan ikan) berarti Anda memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pembudidaya ikan lele, ikan rucah sangat bagus untuk menjadi pakan tambahan ikan lele. Tentunya untuk mendapatkan ikan-ikan kecil yang tidak laku dijual dipasaran ini, akan dijual dengan harga yang sangat murah, karena ikan kecil-kecil ini tidak layak dikonsumsi manusia.
Untuk pemberiannya, bisa langsung diberikan tanpa merebus dan membersihkan terlebih dahulu, hanya saja cincang agar pemberian pakan tambahan ikan rucah ini bisa merata dan secara menyeluruh agar ikan lele semuanya kebagian.
Berikut beberapa pakan alternatif untuk lele dengan kualitas yang bagus:
BAHAN PAKAN 1
No
Bahan
Jumlah
Harga*
Total
1
Kohe puyuh / Kohe ayam
65 Kg
350
22.750
2
Dedak
15 Kg
2500
37.500
3
Ampas tahu/Bungkil kelapa/Onggok
15 Kg
1500
22.500
4
Daun Bayam/Kangkung/Azola
5 Kg
1000
5.000
5
ROTER
50 ml
120
6.000
6
Gula
0.25 Kg
15000
3.750
7
Vit B1
10 butir
100
1.000
8
Vit B6
10 butir
100
1.000
9
Vit B12
10 butir
100
1.000
10
Air kelapa
1 Liter
2000
2.000
11
Air cucian beras / Air Leri
4 Liter
–
–
Total
102.500
Harga Per Kg
1.025
*Harga tiap daerah mungkin berbeda
CARA MEMBUAT:
Roter + gula + air kelapa + air cucian beras campurkan, biarkan 24 jam
Kohe puyuh dikeringkan/dijemur, kemudian haluskan, semprot/bibis dengan larutan roter yg sudah disiapkan sebelumnya, biarkan 24 jam
Daun bayam / kangkung / azolla haluskan/cacah kecil/blender
Vit B1, B6, B12 haluskan
Campurkan semua bahan, semprot/bibis dgn larutan roter sampai merata
Fermentasi selama 5-7 hari secara tertutup
CATATAN: Kunci dari semua ini adalah kualitas Roter yang baik, Kita sudah pernah coba dari produk2 lain sebagai kontrol tetapi kurang berhasil, terutama penguraian kotoran puyuh gagal.
BAHAN ROTER IKAN (Ramuan Obat Ternak)
Rumput laut (adalah) : 1kg
Pisang matang : 10 buah bagus kepok)
Nanas matang : 1 buah
Susu murni : 1L
Usus kambing/sapi : 500gr
Gula merah : 1kg
Ragi tape : 1 butir
Air kelapa baru : 5L CARA MEMBUAT :
nanas kupas, mata jgn dibuang.
semua bahan stirilkan dgn air hangat.
rumput laut (azola), pisang, nenas, ragi diblender
usus sapi/kambing Blender.
gula merah didihkan dgn 1L air.
campur semua bahan aduk2 skitar 3 mnt. Fermentasi : 14 hari tertutup rapat (kasih aerasi) Tiap 2-3 hari goyang2. Dosis :
10 ml + 20L air untuk pakan/ pembuatan pelet.
10 ml /L (m2) tuk kolam..
Catatan : Kalo untuk ternak/unggas bahan tambahi dgn kepiting batu 5-10 ekor
UNTUK MEMPERBANYAK ROTER, BAHAN2NYA SBB: Roter : 1L Gula merah : 2kg Air cucian beras : 5L Air kelapa baru : 5L Susu murni : 2L Bekatul halus : 1kg Terasi matang : 1/4 kg Air matang : 10L
Caranya : Gula merah didihkan dgn air 2L campur semua bahan Fermentasi : 7-14 hari Bau wangi tape berhasil.
CATATAN : bila diambil tiap minggu 2-3L langsung ganti/tambah dgn air kelapa /air gula sebanyak yg diambil…
BAHAN PAKAN 2 Kohe puyuh : 2 karung (100 kg) Dedak halus : 5 kg Terasi mentah : 1 kg Daun pepaya : 5 lembar Roter (Ramuan Obat Ternak): 1 gelas Gula merah : 1/2 kg
Cara membuat : Gula merah dan terasi seduh dengan air mendidih 5 liter, aduk2 dan biarkan sampai menjadi cair dan dingin, selanjutnya masukan roter. Biarkan 2-3 jam Cacah halus daun pepaya Campurkan kohe puyuh, dedak, cacahan daun pepaya Bibis /kocor semua bahan dgn air campuran roter, gula, terasi sampai merata Simpan dalam wadah tertutup selama 5-7 hari. Kita sudah punya pakan 105 kg yang tidak kalah dengan pelet pabrikan Pemberian pakan cukup 5% dari total bobot ikan lele. Pemberian bisa 2-3 x
Catatan : Pola yang lain sama saja dengan pola pemeliharaan standar pabrikan
BAHAN PAKAN 3 Kohe sapi atau kohe ayam petelur : 2/3 drum yang 200 ltr Dedak : 3 kg Terasi mentah : 1 kg Limbah ikan: 2-3 kg (bebas apa sj) Daun pepaya : 5 lbr Kunyit : 1/2 kg Roter : 1 gelas Gula : 1/2 kg
Cara membuat : Gula dan terasi seduh dgn air mendidih 5 ltr, setelah dingin masukan roter, biarkan 2-3 jam Daun pepaya dan kunyit haluskan, bisa di blender/tumbuk Campurkan semua bahan kemudian simpan dalam drum tertutup, 5-7 hari
Pemberian pakan : Untuk 2000 ekor pagi 1 ember 10 ltr, sore 1 ember. 1 minggu pertama Minggu ke dua : 2 ember Minggu ketiga sampe panen : 3 ember
CATATAN: Pola perawatan sama dengan yang standar. Maaf, tidak tanggungjawab jika tidak memakai selain Roter. Kohe lain belum pernah kita coba, so tidak tau bagaimana hasilnya Ciri berhasil pakan wangi, tidak bau
PELATIHANTEKNIS BUDIDAYA IKAN LELE SISTEM BIOFLOC Bersama AS SAKINAH PRO Kab klaten dan Biovisi
APA ITU BIOFLOK? Kumpulan dari berbagai organisme seperti bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing ,dll yang tergabung dalam gumpalan. Bahan organik yang berupa limbah yang tersuspensi, diaduk dan di-aerasi kemudian diurai oleh bakteri heterotrof secara aerobic menjadi senyawa organik. Dalam konsep teknologi biofloc senyawa nitrogen anorganik ( terutama ammonia yang bersifat racun) didaur ulang menjadi protein sel mikroba sehingga bisa dimakan oleh lele.
KONSEP TEKNOLOGI BIOFLOC Senyawa nitrogen anorganik yang mengandung senyawa karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O2), Nitrogen (N) dengan sedikit available Posfor (P), yang bersifat racun, didaur ulang menjadi massa sludge (lumpur) berupa Biofloc dengan menggunakan bakteri pembentuk Floc (gumpalan) sehingga bisa dimakan oleh ikan.
SYARAT KOLAM BIOFLOC Membutuhkan Probiotik yang mendukung sistem biofloc dengan 8 bakteri pembentuk Floc Membutuhkan Oksigen ( Dgn laju alir aerator 1,500 LPH/m3) Bahan baku starter ( Molase/Tepung dll) yang sudah dididihkan dan didinginkan Air kolam dibuat selalu mengaduk (turbulence)
TAHAP PERSIAPAN BAHAN DAN ALAT BAHAN-BAHAN Probiotik . Molase/Tetes Tebu Bibit ikan Lele Pakan Air
ALAT-ALAT Aerator Pompa Air Bak/Ember Sortir
PROBIOTIK Berfungsi sebagai bibit bakteri yang akan mengurai limbah organik sisa pakan/plankton menjadi protein. Misal Biovisi Multi 2in1, Biovisi Lacto
MOLASE/TETES TEBU Berfungsi sebagai sumber Carbon (N) karena Biofloc akan terbentuk jika C/N rasio lebih dari 12
Bakteri Pengurai : a. Bakteri pengurai bahan organik dan protein ( Baccilus Subtillis,Licheniformis, Megatrium) b. Banteri Pengguna Amonia ( Baccilus megatrium) c. Bakteri Photosintesa Sintetik Bakteri (PSB) d. Bakteri Pengurai Serat ( Baccilus Polymyca)
Bakteri lain : Bakteri Nitrifikasi ( Nitrosomonas dan nitrobacter)
PROSES BIOFLOC
MICROBA BIOFLOC
Komposisi Nutrien Microbia Biofloc
PEMBUATAN PROBIOTIK UNTUK AIR KOLAM Bahan-bahan: 2 biji buah pisang atau 200 gr nanas yg sudah matang ½ kg gula pasir, molase matang/ tetes tebu 2 butir telur ayam 500 ml Probiotik Biovisi Multi 2in1 Cara Membuat: Masukkan 1/2 kg gula pasir(dilarutkan dulu) Masukkan 500 ml Biovisi Multi 2in1 Blender pisang 2 biji atau 200 gram nenas Blender 2 butir vit B dan C Blender 2 butir telur Masukkan ke dalam ember ber-aerasi Tutup ember dgn rapat dan di-aerasi Setelah 4 hari cairan probiotik aktif siap digunakan
PEMBUATAN FERMENTASE BIOVISI UNTUK APLIKASI PAKAN Masukkan 25 ltr air galon ke dalam ember dengan penutup Masukkan 500 ml Biovisi Multi 2in1 Masukkan 500 ml molase matang/ tetes tebu/ air gula merah Masukkan campuran jus pisang/nenas, telor, vit B dan C Tutup ember dengan rapat Probiotik aktif dapat digunakan setelah 4 hari
TAHAPAN BUDIDAYA SISTEM BIOFLOC TAHAPAN PERTAMA
PERSIAPAN AIR Air pada budidaya lele biofloc diusahakan menggunakan air bersih, tidak mengandung kimia dan tidak tercemar. Air tidak tercampur dengan air Hujan Isi kolam hingga 40 – 50 cm
Untuk pengolahan air tahap awal pencampuran bahan dilakukan bertahap selang 24 jam Garam 1700 gram/m3 Tetes 100ml/m3 Dolomit 100 gram/m3 Probiotik Biovisi Multi 2in1 aktif 100 ml/m3 (100ml Multi cair + 200ml Molase + Air 10-20 ltr, dalam jerican tertutup, fermentasi selama 1-3 hari) Aduk-aduk air, biarkan air membentuk floc dalam 7-10 hari Air yang sudah jadi mempunyai ciri tepi kolam seperti berlumut dan muncul gumpalan dalam air Ciri yang lain, warna air kuning hijau kecoklatan..dominan coklat Jika tidak ada ciri tersebut , harus dilakukan mulai dari awal dengan air yang sama tetapi dosis garam dikurangi menjadi 500 gr/m3
AERATOR • Berfungsi untuk mensuplai oxygen ke dalam kolam guna padat tebar • Mengaduk air dalam kolam agar pembentukan bakteri sempurna • Pengadukan air selamai 24 jam non stop
TAHAPAN KEDUA
PEMILIHAN DAN PENEBARAN BIBIT LELE • Mencari bibit yang unggul dan berkwalitas • Bibit Lele untuk sistem Biofloc aman ditebar pada ukur 7-8 cm • Menghitung benih Secara volumetri (berdasarkan takaran / volume) Secara gravimeteri (berdasarkan sampling timbangan) • Pengangkutan Secara terbuka dan secara tertutup Bahan tambahan : minyak goreng, imunostimulan, anti stress
MANAJEMEN PEMILIHAN BENIH Pilih benih dari induk berkualitas (unggul) Ciri benih yang baik : • Ukuran rata dari 1 pasang induk • Gerakan gesit dengan ukuran tubuh ideal (tidak besar kepala) • Tidak ada benih yang menggantung, lemah. • Respon terhadap pakan • Pilih dari saringan pertama atau kedua dari 3 ukuran grading. Bila grading hanya 2 ukuran, pilih yang pertama.
PENEBARAN BENIH
Saat benih sampai di kolam lakukan penyegaran dengan memberikan antistress dan ganti sebagian air.
Setelah itu, ambil benih dan lakukan deeping (perendaman dalam PK) untuk memastikan benih tidak membawa parasit / penyakit.
Benih diaklimatisasikan ke kolam pembesaran. Usahakan ikan keluar ke kolam dengan sendirinya.
Benih harus dijaga agar tidak kena hujan selama kurang lebih 1 bulan pertama dengan memasang peneduh / atap agar tidak kemasukan air hujan. Karena saat masih benih (khusus Lele) perlu diberi pelindung dari hujan. Air hujan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup benih.
TAHAPAN KETIGA
MANAJEMEN PAKAN • Pakan yang baik memiliki kandungan protein diatas 32 % • Kolam Bifloc tidak menggunakan pakan seperti Keong, Bekicot, ayam tiren, ikan rucah dll • Pakan ikan lele biasanya terdiri dari 3 - 4 macam ukuran • Ukuran diameter 1 mm dengan protein 38% • Ukuran diameter 2 mm dengan protein 31% • Ukuran diameter 3 mm dengan protein 31% • Ada juga pabrik yang memproduksi 0,5 dan 0,8 mm • Selain itu pakan pabrikan juga ada yang kadar proteinnya di bawah 30%. • Setiap pemberian pakan harus dibibis dengan probiotik yang sudah difermentasi agar mengembang & kadar protein berlebih sebelum diberikan.
FERMENTASI PAKAN : • Alat dan Bahan yang diperlukan : • Vitamin C dan Vitamin B ( bisa diganti cukup dengan kunir bubuk ) • Air kelapa • Probiotik pakan • Tetes • Ember / Toples • Proses pembuatan pakan Campurkan dan masukkan kedalam ember/ toples : Pelet 1 Kg + air kelapa 1 gelas + tetes 2 ttp botol + kunir ± ½ sdt + probiotik Biovisi Multi atau Lacto 1 ttp botol. Aduk hingga rata. Setelah semua bahan tercampur rata,tutup dengan rapat ember/toples. Biarkan minimal 6 jam, agar terjadi proses fermentasi. - Dosis pemberian pakan : Pakan diberikan 5% dari berat lele 2X sehari pada waktu = ( -+ ) pukul 08.00, 20.00 3X sehari pada waktu = (-+ ) pukul 08.00, 17.00, 21.00 Setiap satu minggu sekali wajib puasa sehari (tentukan harinya)
RUMUS PEMBERIAN PAKAN B/E X JUMLAH IKAN X %SR X % PAKAN/FR = …………… TOTAL BIOMASSA X % SR X % PAKAN/FR = ……………
TABEL DATA PAKAN
Gambar Floc dalam Gelas
Bagaimana terbentuk Biofloc ? Proses dimulai dari proses nitrifikasi berupa amoniak plus oksigen menjadi ion nitrit dan akhirnya nitrat dan air. Proses ini didominasi oleh bakteri oksidasi amonia dan bakteri oksidasi nitrit yang memerlukan oksigen yang cukup yaitu 4ppm pada siang dan 6 ppm pada malam hari.
PEMANTAUAN SISTEM
DOMINASI BAKTERI (Tugas Mingguan)
PERUBAHAN WARNA (Tugas Mingguan)
PEMANTAUAN FLOC (Tugas Mingguan)
GRADING UKURAN IKAN (Tugas Bulanan)
PENGENDALIAN PENYAKIT (Tugas Mingguan)
PEMELIHARAAN FLOC Tahap suntikan BULAN 1: Buang endapan di dasar kolam hingga 10-15% setiap 10 hari sekali, isi air hingga level semula Masukkan semua bahan ke dalam kolam, (molase matang, dolomit, dan probiotik aktif) dicampur bersamaan. Lakukan 7 hari sekali 4 kali (28 hari). Garam diberikan seminggu sekali secara rutin pada hari tertentu minimal ½-1 gelas. Pemberian garam tidak boleh bersamaan dengan waktu penyuntikan air, ± di beri jarak 2-3 hari. Puasakan ikan saat penambahan bahan-bahan tersebut Tahap suntikan BULAN 2: Suntikan dilakukan 5 hari sekali 4 kali (20 hari). Bulan berikutnya diakukan 3-4 hari sekali 4 kali sampai panen
PEMANTAUAN FLOC • Floc dipantau dengan menggunakan gelas transparan. • Ambil air kolam dengan menggunakan gelas transparan dibeberapa tempat • Diamkan agar partikel floc mengendap selama 20 – 30 menit • Amati floc yang mengendap • Bila floc sudah 5 % mulai berlakukan puasa pada ikan. • Bila floc terlalu pekat yang ditandai dengan kondisi ikan maka floc dapat dikurangi dengan membuang air sebagian dan mengganti dengan air baru. • Endapan floc harus sering dikontrol, untuk menentukan apakah ikan perlu dipuasakan, atau floc harus dibuang sebagian. • Pemberian dolomite dapat membantu pembentukan floc (mineral Ca dan Mg)
PEMERIKSAAN AIR HARIAN Lakukan uji pH, TDS, DO, suhu, warna air, bau NH3, NO2, NO3, TSS pagi dan sore
INOKULASI BAKTERI FOTOSINTETIK • Bakteri fotosintetik merupakan mikroba yang sering ditemukan mendominasi kolam biofloc, yang dicirikan dengan warna merah, merah coklat – merah keunguan. • Bakteri ini menggunakan nitrogen anorganik (amonia, nitrat) sebagai sumber N, serta asam organik sebagai sumber C. • Dalam proses fotosintesis bakteri ini tidak menghasilkan oksigen. • Bakteri ini dapat diinokulasikan (dipindahkan) dari kolam yang warna airnya merah ke air kolam yang belum merah.
GRADING UKURAN IKAN • Grading adalah pemisahan ukuran agar ukuran ikan menjadi seragam sehingga dapat mengurangi resiko kanibalisme. • Grading dilakukan 1 bulan setelah penebaran karena pertumbuhannya biasanya sudah tidak rata. • Sebelum digrading ikan dipuasakan. Grading dilakukan saat cuaca baik dan kondisi ikan benar-benar sehat. • Grading dilakukan dengan menggunakan alat berupa bak yang berlubang sisi tepi dan dasarnya.
PERMASALAHAN DAN SOLUSI DALAM APLIKASI TEKNOLOGI BIOFLOC
Salah dalam memilih jenis probiotik Untuk membentuk floc, probiotik yang digunakan harus spesifik. Oleh karena itu bakteri yang digunakan harus dari kelompok bakteri heterotrof. Dari kelompok bacillus terdiri dari Bacillus subtilis, Bacillus Lycheniformis, Bacillus Megaterium dan Lactobacillus, dan dari kelompok fotosintetik yang terdiri dari Rhodobacter dan Rhodospirilum.
Air hitam (Floc hitam) Warna air kehitaman menunjukkan kondisi lingkungan dalam kolam kekurangan oksigen. Bila terjadi air dengan kondisi tersebut, lakukan pembuangan kotoran yang ada di dasar kolam dengan cara membuka pipa pembuangan, tambahkan kapur dan aerasi yang cukup agar terjadi oksidasi secara merata dan sempurna.
Pengadukan/aerasi tidak merata Bila pengadukan/aerasi berhenti, biasanya terjadi endapan karena kekurangan oksigen dan tingginya kandungan karbondioksida, dapat menyebabkan kematian ikan. dilakukan pengapuran 10-20 gr/m3 untuk mengikat CO2 dalam air dan meningkatkan pH serta alkalinitas.
Air bau Disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan, terjadinya kematian bakteri secara massal, dasar kolam terlalu kotor serta pH air rendah. Menumpuknya kotoran di dasar kolam menyebabkan perombakan bahan organik secara berlebihan sehingga terjadi penumpukan amoniak yang sangat tinggi. Tindakan yang harus dilakukan yaitu mengganti air sebanyak 30%, menambah aerasi, probiotik aktif dan molase matang (tetes), diikuti dengan pengapuran pada malam hari. Lakukan penyifonan dan berikan garam secukupnya (250-500 gram/m3 ).
Floc tidak terbentuk Biasanya disebabkan oleh bahan organik masih belum cukup, penyusun inti floc kurang, Carbon/Nitrogen ratio tidak sesuai (terlalu rendah), gangguan cuaca (hujan) dan adanya pemangsaan yang cukup tinggi oleh hewan protozoa. Mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan aerasi yang cukup, tingkatkan C/N ratio dengan penambahan molase matang, menutup kolam saat hujan, serta memberikan garam dosis 3 kg/m3 .
Floc terlalu pekat Lakukan pengenceran secara over flow, sebaiknya ikan tidak diberi pelet agar ikan memanfaatkan Floc atau kurangi porsi pakan hingga 30-40% per hari sampai Floc tersisa 5% saja. Bila Floc terlalu kental tetapi ikan sudah lemah kondisinya, maka segera lakukan pergantian air dengan membuang air dasar dan Floc yang mengendap hingga 30%.
Pemberian molase yang berlebih Pemberian molase dapat menimbulkan masalah bila tidak hati-hati karena molase dapat merangsang perkembangan bakteri. Sebagai contoh bakteri Methanobacter, dapat memfermentasi molase menjadi gas metana yang dapat menyebabkan kematian ikan. Sebaiknya sebelum diberikan ke dalam kolam, rebuslah molase agar bakteri mati. Saat perlakuan, berikan aerasi yang cukup.
Nafsu makan turun Penurunan nafsu makan disebabkan beberapa faktor antara lain suhu yang rendah, pH terlalu rendah atau terlalu tinggi, kualitas air tidak memenuhi persyaratan (bahan organik terlalu tinggi). Segera lakukan penggantian air dan lakukan monitoring kualitas air secara berkala.
SDM Kompetensi sumberdaya manusia masih belum memadai. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi, pelatihan, transformasi teknologi, serta pembentukan sikap mental.
Kolam Berbusa Hal ini disebabkan oleh adanya bakteri berfilamen yang menempel pada biofloc. Untuk itu ditebar 10 ppm Kalsium peroksida, ikuti dengan menahan pergantian air selama 5‐6 hari sambil dilakukan penambahan 20 ppm CaCO3/kaptan per harinya, jika pada hari ke 6 busa masih ada, tebar 10 ppm Kalsium Peroksida lagi, pada hari ke 7 air mulai dimasukkan ke dalam kembali, dan ketinggian air dipulihkan ke ketinggian semula.
Ikan menggerombol di permukaan atau nyembul-nyembul Disebabkan oleh derajat pH menurun atau perubahan kualitas air lainnya. Penanganan dengan : • Buang air 30-40%, • Tambahkan air baru, • Tambahkan dolomit dan probiotik
Ketebalan Biofloc Berkurang (normal 10-20 cm secchi disk) dan warna mengarah ke hijau Hentikan pengenceran, tahan air selama 5‐6 hari, aplikasikan pupuk ZA 1 ppm setiap harinya untuk menekan pertumbuhan chrollera atau aplikasikan pupuk ZA 5 ppm setiap harinya untuk menekan pertumbuhan blue green algae. Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali.
Ketebalan Biofloc Berkurang (normal 10-20 cm secchi disk) dan warna mengarah ke coklat merah Hentikan pengenceran, tahan air selama 5‐6 hari, aplikasikan CaCO3/Dolomit 20 ppm setiap harinya dan 1‐2 x treatment dengan Kalsium peroksida. Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali.
Warna Hijau Biru (BGA) atau merah (Dinoflagellata) tetap ada setelah 5-6 hari treatment Berlakukan pola sistem “minimal exchange water” terhadap kolam tersebut, hindari pengenceran/sirkulasi. Penambahan air hanya dilakukan untuk mengganti air yang hilang/susut akibat penguapan, perembesan dan susut air akibat pembuangan lumpur rutin harian saja.
PENGENDALIAN PENYAKIT • Penyakit muncul sering dipicu oleh kualitas air yang tidak baik, (cuaca yang tidak baik), pakan yang kualitasnya rendah. • Pergantian air (untuk perbaikan kualitas air) • Aplikasi probiotik ekstra dan tetes bila perlu. • Aplikasi garam hingga 0,5 kg/m3 bila ada gejala penyakit. • Pemberian obat herbal melalui pakan sangat dianjurkan • Pemberian probiotik melalui pakan untuk menjaga keseimbangan mikroflora dalam usus.
PANEN • Panen dilakukan setelah ukuran ikan mencapai 8 – 10 ekor atau sesuai dengan permintaan pasar. • Seminggu sebelum panen harus ada negosiasi dengan bakul (pembeli). • Saat panen biasanya dilakukan sortir. Ikan yang tidak memenuhi standar akan disortir.
Klasifikasi ikan lele dumbo menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986) secara lengkap sebagai berikut : Kingdom : Animalia Sub kingdom : Metazoa Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata Kelas : Pisces Sub kelas : Teleostei Ordo : Ostariophysi Sub ordo : Siluroidea Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies : Clarias spp Penyebutan nama ikan lele di berbagai negara berbeda-beda. Ikan lele ada yang dikenal dengan sebutan keli (Malaysia), plamond (Thailand), catetrang (Jepang), mali (Afrika), gura magura (Srilangka), dan catfish (Inggris). Di berbagai daerah di Indonesia, lele disebut ikan keli atau keeling (Makasar/Sulawesi), lele (Pulau Jawa), pintet (Kalimantan), kalang (Sumatera). Disebut catfish karena ikan ini mempunyai kumis seperti kucing. Istilah ini juga berlaku bagi jenis ikan lain yang juga berkumis, seperti : patin dan baung. Beberapa spesies ikan lele yang ada di Indonesia diantaranya : Clarias melanoderma, Clarias nieuofii, Clarias teijsmanii, Clarias macrochepalus, Clarias batrachus dan Clarias leiacanthus (Surya Gunawan, 2009).
Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari biasanya berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Ikan lele dilengkapi bernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya dan bernafas dengan bantuan labirin yang berbentuk seperti bunga karang di bawah badannya, fungsinya sebagai penyerap oksigen yang berasal dari udara sekitarnya. Maka dalam keadaan tertentu ikan lele dapat beberapa jam berdiam di permukaan tanah yang lembab dan sedikit kadar oksigennya (Rachmatun, 2007).
Makanan dan kebiasaan makan Ikan lele adalah pemakan hewan dan pemakan bangkai (carnivorousscavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik, seperti kutu-kutu air (daphnia, cladocera, copepoda), cacing, larva (jentik-jentik serangga), siput kecil dan sebagainya. Ikan ini biasanya mencari makanan di dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan cepat memakannya. Dalam mencari makanan, lele tidak mengalami kesulitan karena mempunyai alat peraba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan makanan, baik di dasar, pertengahan maupun permukaan perairan. Pertumbuhan lele dapat dipacu dengan pemberian pakan berupa pelet yang mengandung protein minimal 25% (sesuai SNI 01-4087-2006). Jika ikan lele diberi pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat (Ghufran, 2010). Walaupun ikan lele bersifat nokturnal, akan tetapi pada kolam pemeliharaan terutama budidaya secara intensif lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika diberi pada waktu malam hari. Ikan lele relatif tahan terhadap kondisi lingkungan yang kandungan oksigennya sangat terbatas. Pada kondisi kolam dengan padat penebaran yang tinggi dan kandungan oksigennya minimum, ikan lele pun masih dapat bertahan hidup (Khairuman SP, 2008).
Jenis-jenis lele Menurut Ghufran (2010), jenis-jenis ikan lele yang sudah banyak dibudidayakan antara lain :
a. Lele lokal
Lele lokal (Clarias batrachus) merupakan lele asli perairan umum Indonesia. Lele lokal sudah dibudidayakan sejak tahun 1975di daerah Blitar, Jawa Timur. Daging lele lokal sangat gurih dan renyah karena tidak mengandung banyak lemak. Namun pemeliharaannya memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan lele dumbo (Clarias gariepinus). Untuk mencapai ukuran 500 gram per ekor, dibutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 1 tahun. Oleh karena itu, budidaya lele lokal tidak sebanyak lele dumbo. Walaupun demikian, lele lokal tetap dibudidayakan karena konsumen fanatik lele lokal cenderung tidak menyukai daging lele dumbo.
b. Lele dumbo
Lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah ikan introduksi yang didatangkan ke Indonesia pada tahun 1985. Lele dumbo merupakan lele hybrid dari hasil persilangan lele lokal Afrika spesies C. Mossambicus dengan lele lokal Taiwan spesies C. Fuscus. Perkawinan silang tersebut menggunakan C. Mossambicus jantan dan C. Fuscus betina. Lele dumbo merupakan lele unggul, selain pertumbuhannya cepat, ukurannya pun sangat besar. Untuk mencapai ukuran 500 gram per ekor, lele dumbo hanya butuh waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan. Oleh karena itu, lele dumbo sangat popular sebagai ikan budidaya di Indonesia. Sebagian konsumen tidak menyukai lele dumbo karena lemaknya cukup tinggi. c. Lele keli
Lele keli (Clarias meladerma) merupakan salah satu ikan lele lokal. Lele keli mulai dibudidayakan pada tahun 1987 oleh Sub Balitkanwar Palembang dan berhasil dipijahkan pada tahun 1989. Lele ini banyak ditemukan di daerah Keli, Sumatera Selatan. Karena itulah lele ini disebut “Lele Keli”. Berdasarkan uji coba, lele keli lebih unggul dari lele lokal. Untuk tumbuh mencapai 500 gram per ekor, diperlukan waktu 5-6 bulan. Lele keli juga mudah beradaptasi pada berbagai perairan tawar dan tahan terhadap serangan penyakit, khususnya bakteri Aeromonas yang sering menyerang ikan lele. Pertumbuhannya pun lebih cepat dari lele lokal, meskipun masih di bawah lele dumbo. Umumnya, lele keli mempunyai warna badan lebih gelap (hitam kekuningan) dari lele lokal yang berwarna lebih muda (terang), sirip-siripnya lebih lebar dari lele lokal, ukuran kepalanya lebih besar dari lele lokal dan tidak mempunyai patil (patilnya tidak tajam).
d. Lele sangkuriang
Lele sangkuriang (Clarias gariepinus Var) merupakan salah satu varietas atau strain unggul yang dihasilkan oleh peneliti di Indonesia. Lele ini merupakan hasil perbaikan genetik lele yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dengan melakukan silang balik (backcross) terhadap induk lele dumbo yang ada di Indonesia antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di BBPBAT Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1985, sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di BBPBAT Sukabumi. Pada tahun 1994, lele sangkuriang resmi dilepas sebagai varietas lele unggul berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KP.26/MEN/2004 tertanggal 21 Juli 2004. Lele sangkuriang memiliki keunggulan dibandingkan lele dumbo. Keunggulan lele sangkuriang dibandingkan dengan lele dumbo antara lain fekunditas telur yang lebih banyak, yaitu mencapai 60.000 butir dengan derajat penetasan telur >90%, sedangkan lele dumbo hanya 30.000 butir dengan derajat penetasan > 90%, panjang rata-rata benih lele sangkuriang usia 26 hari dapat mencapai 3-5 cm, sedangkan lele dumbo hanya 2-3 cm, nilai konversi pakan atau FCR lele sangkuriang berada pada kisaran 0,8 - 1,0 sedangkan nilai FCR lele dumbo lebih dari 1 (Khairuman, 2008). Perbedaan karakter lele sangkuriang dengan lele dumbo dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Perbedaan karakter pertumbuhan Lele Sangkuriang dengan Lele Dumbo
e. Lele phyton
Lele phyton (Clarias gariepinus var) dihasilkan oleh Kelompok Sinar Kehidupan Abadi (SKA), kelompok pembudidaya lele Bayumundu, Pandeglang, Banten. Lele phyton merupakan lele hasil silang antara lele dumbo asal Thailand (lele D89F2) dengan lele dumbo asal Afrika (F6). Lele phyton juga merupakan salah satu varietas lele unggul yang dihasilkan oleh penangkar lokal. Karena bentuk kepala ikan ini mirip dengan ular phyton, maka dinamakan ikan lele phyton. Ciri-ciri fisiknya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Keunggulan dari lele phyton adalah pertumbuhannya lebih cepat. Ukuran benih 7-8 cm membutuhkan waktu sekitar 50-55 hari pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi, sedangkan pemeliharaan ukuran benih 9-10 cm hanya membutuhkan waktu 40-45 hari untuk mencapai ukuran konsumsi. Disamping itu, lele phyton dapat dibudidayakan di lingkungan yang bersuhu dingin.
TEKNOLOGI BIOFLOK BIOFLOK berasal dari kata “BIOS” artinya kehidupan dan “FLOC atau FLOCK” artinya gumpalan. Jadi pengertian BIOFLOK adalah kumpulan dari berbagai organisme (bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing, dll.) yang tergabung dalam gumpalan (flok). Teknologi bioflok pada awalnya merupakan adopsi dari teknologi pengolahan limbah lumpur aktif secara biologi dengan melibatkan aktivitas mikroorganisme (seperti bakteri). Budidaya ikan dengan menerapkan teknologi bioflok berarti memperbanyak bakteri/mikroba yang menguntungkan dalam media budidaya ikan, sehingga dapat memperbaiki dan menjaga kestabilan mutu air, menekan senyawa beracun seperti amoniak, menekan perkembangan bakteri yang merugikan (bersifat pathogen) sehingga ikan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Suprapto, 2013).
Gambar 4 . Skema aliran nitrogen pada sistem budidaya dengan teknologi bioflok
Dalam penerapan teknologi bioflok memanfaatkan penumpukan bahan organik yang berasal dari sisa pakan, kotoran ikan maupun jasad yang mati seperti plankton dan lain-lain sebagai sediaan hara untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang akan menghasilkan flok. Oleh karena itu dalam teknologi ini pergantian air dapat diminimalkan. Bahan organik diusahakan teraduk secara terus menerus, sehingga terurai dalam kondisi cukup oksigen (aerob). Perkembangan mikroba dalam medi budidaya diharapkan didominasi oleh bakteri/mikroba yang menguntungkan. Untuk itu perlu dilakukan penambahan mikroba/bakteri probiotik secara berkala ke dalam media budidaya. Penambahan karbon organic seperti molase (tetes tebu) atau gula pasir atau tepung terigu atau leri (air cucian beras) akan mempercepat perkembangan mikroba/ bakteri heterotrof yang menguntungkan. Selanjutnya bakteribakteri tersebut akan membentuk konsorsium dan terjadi pembentukan flok dengan adanya bahan organik yang cukup tinggi di dalam media budidaya. Bahan organik yang merupakan limbah diaduk dan diaerasi. Bahan organik yang tersuspensi akan diuraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik. Bila bahan organik mengendap (tidak teraduk) maka akan terjadi kondisi yang anaerobik. Hal ini akan merangsang bakteri anaerobik mengurai bahan organik menjadi bahan organik yang lebih sederhana (asam organik, alkohol) serta senyawa yang bersifat racun (amoniak, nitrit, H2S, metana).
Keuntungan penerapan teknologi bioflok ini antara lain : a. Sedikit pergantian air (efisien dalam penggunaan air). b. Tidak tergantung sinar matahari. c. Padat tebar lebih tinggi (bisa mencapai 3.000 ekor/m3 ). d. Produktivitas tinggi. e. Efisien pakan (FCR bisa mencapai 0,7). f. Efisien dalam pemanfaatan lahan. g. Membuang limbah lebih sedikit. h. Ramah lingkungan.
Beberapa persyaratan umum dalam penerapan teknologi bioflok : a. Konstruksi kolam harus kuat (beton, terpal, fiber). b. Kedisiplinan dan ketelitian yang tinggi. c. Perlu keuletan. d. Perlu peralatan untuk aerasi dan pengadukan. e. Pemahaman terhadap teknologi budidaya.
Pembuatan kolam Dalam penerapan teknologi bioflok pada budidaya lele secara intensif, konstruksi kolam dapat terbuat dari beton, terpal atau fiber. Konstruksi kolam tidak membentuk sudut. Contoh konstruksi kolam bundar berbahan plastik dengan rangka besi anyaman (besi wiremesh) sebagai berikut : a. Besi anyaman (besi wiremesh diameter 6 mm) untuk rangka dinding kolam. b. Fiber tipis / karpet talang / tripleks 2 mm untuk pelapis dinding. c. Terpal/ plastik untuk dinding dan dasar kolam. d. Pipa PVC 2 inchi dan knee 2 buah. e. Sealer (lem). f. Gunting. g. Gergaji besi.
Caranya : a. Besi anyaman (besi wiremesh) dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan, kemudian antar buku dikaitkan dengan cincin besi atau diikat kawat sebagai pengunci sehingga berbentuk lingkaran (lihat gambar). b. Kolam dapat berbentuk persegi berukuran 1x2 m2 , 2x4 m2 atau kolam berbentuk bundar berdiameter 2 meter. Untuk kolam berbentuk persegi, sudut dilengkungkan untuk menghindari sudut mati. c. Terpal/plastik dipotong sesuai dengan ukuran dan bentuk kolam yang diinginkan, kemudian dijahit dan di lem agar tidak bocor. d. Terpal yang sudah jadi dimasukkan kedalam rangka besi yang telah disiapkan
Persiapan kolam Pengisian air Sebelum kolam diisi air, kolam terlebih dahulu dibersihkan/disterilisasi. Bila perlu dilakukan pengeringan dan desinfeksi dengan menggunakan kaporit 10%. Pengisian air kedalam kolam sampai penuh dengan ketinggian air 80-100 cm dengan menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah ditreatment dengan menggunakan kaporit 30 gram per m3 selama 3 hari (untuk kolam diluar ruangan) dan untuk kolam didalam ruangan dinetralkan dengan Sodium Thiosulfat dengan dosis 15 gram/m3 setelah minimal 24 jam pemberian kaporit. Pemasangan peralatan Pemasangan peralatan meliputi pompa dan perlengkapannya (selang aerator, filter dan pipa pengeluaran pompa). Setelah pemasangan, perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui kekuatan aliran arus dan kemampuan pengadukannya. Aliran dibuat melingkar sehingga endapan terjadi di bagian tengah kolam. Pompa harus dipasang ditengah dan aliran air dikeluarkan di bagian tepi kolam dengan arah keluar yang berlawanan. Perlakuan (treatment) Perlakuan (treatment) air dilakukan dengan cara sebagai berikut : - Kapur tohor 100 gr per m3 /dolomit 200 gr per m3 /kaptan 200 gr per m3 /mill 150 gr per m3 - Garam krosok (non-iodium) : 3 kg per m3 air. - Probiotik 5 cc per m3 . Jenis probiotik yang digunakan adalah bakteri heterotrof antara lain Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Bacillus megaterium, Bacillus polymyxa). - Molase (tetes tebu) sebanyak 100 cc per m3 atau gula pasir 75 gr per m3 Kemudian air dibiarkan selama 7 hari atau air terlihat berubah warna atau terasa lebih licin. Kolam siap ditebar benih. Pengadukan dan aerasi Pengadukan dilakukan dengan menggunakan blower 100 watt yang dapat dimanfaatkan untuk 6 unit kolam bundar yang dipasang mulai dari awal pemeliharaan. Gunanya untuk mengaduk media supaya bahan-bahan organik teraduk dengan rata sehingga terurai secara aerobik, untuk meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan membuang gas karbondioksida (CO2) untuk mengurangi penurunan pH dan alkalinitas air, serta menambahkan kandungan oksigen (O2) untuk bakteri dan ikan didalam kolam. Pengadukan dan aerasi harus tetap terjaga selama pemeliharaan untuk menghindari efek dari perombakan jasad plankton yang mati akibat dari kandungan oksigen yang rendah dan amoniak yang tinggi. Pengadukan dan aerasi ini juga sangat diperlukan untuk menjaga flok agar tetap tersuspensi didalam air, sehingga kualitas air sesuai untuk kebutuhan ikan. Penebaran benih Benih lele yang ditebar berukuran 7-8 cm (SNI Nomor 01-2 6484.2-2000) dengan padat tebar 1.000 ekor/m . Sebelum benih ditebar, sebaiknya benih lele disucihamakan/direndam dengan menggunakan vaksin sesuai aturan pakai pada label kemasan. Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Upaya penyamaan suhu air wadah benih secara bertahap agar benih tidak stres saat ditebarkan maka benih diadaptasikan terlebih dahulu dengan cara menambahkan air kolam ke dalam kantong benih. Benih yang sudah adaptasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan air kolam. Manajemen pakan Setelah benih ditebar kedalam kolam, selanjutnya benih dipuasakan selama 2 hari untuk proses adaptasi dengan lingkungan baru sambil menunggu isi lambung bener-bener kosong/bersih. Pada saat pemberian pakan pertama kali disarankan maksimal Selain pemberian probiotik, sebaiknya juga melakukan pengapuran 7 hari sekali pada bulan pertama, dan setiap 5 hari sekali pada bulan 3 berikutnya dengan dosis 200 gr per m air. Setelah itu tambahkan unsur C (tepung terigu/ tepung beras/ tapioka) sebanyak 240 gram per 10 kilogram pakan yang diberikan. Selanjutnya berikan aerasi yang kuat di dasar kolam hingga permukaan air untuk mempercepat proses pengadukan hingga terbentuknya flok. Pakan yang diberikan difermentasi dengan menggunakan probiotik jenis Lactobacillus selama 2 hari atau maksimal 7 hari. Komposisinya yaitu 2 cc probiotik per kilogram pakan yang diberikan, dan ditambahkan air bersih sebanyak 25% dari berat pakan. Selanjutnya kedua bahan ini dicampur merata kemudian diletakkan dalam wadah dan dibiarkan selama 2 hari. Setiap harinya, kedua bahan ini harus diaduk. Jenis pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu pelet standar SNI (pakan buatan pabrik. Pemberian pakan pertama kali setelah puasa sebanyak 2,5 % dari bobot biomassa untuk adaptasi lambung setelah puasa. Selanjutnya pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan porsi sebanyak 80% dari daya kenyang ikan dengan perhitungan seperti pada Tabel 4 berikut ini.
Pemberian pakan yang sesuai dengan dosis ditandai dengan tidak adanya lele yang menggantung/telentang di permukaan air dalam waktu 1 – 2 jam setelah pemberian pakan. Ikan tidak diberi pelet sehari dalam seminggu untuk memanfaatkan flok yang tersedia dimulai pada minggu kedua setelah penebaran. Pengelolaan air Pengelolaan air sangat penting dalam usaha budidaya. Kegiatan pengelolaan air dapat dilakukan dengan cara menambahkan probiotik kedalam wadah budidaya. Cara dan dosis pemberian probiotik kedalam wadah budidaya dapat dilihat dalam Tabel 5 berikut ini.
PERMASALAHAN DAN SOLUSI DALAM APLIKASI TEKNOLOGI BIOFLOK Dalam aplikasi penerapan teknologi bioflok pada usaha budidaya ikan lele sering ditemukan beberapa masalah antara lain: a. Probiotik Pada umumnya pembudidaya banyak yang salah dalam memilih jenis probiotik yang digunakan. Untuk membentuk floc,probiotik yang digunakan harus spesifik. Oleh karena itu bakteri yang digunakan harus dari kelompok bakteri heterotrof. Dari kelompok bacillus terdiri dari Bacillus subtilis, Bacillus Lycheniformis, Bacillus megaterium dan Lactobacillus dan dari kelompok fotosintetik yang terdiri dari Rhodobacter dan Rhodospirilum. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya pembudidaya menggunakan produk yang sudah terbukti di lapangan sehingga lebih efisien waktu dan memperkecil resiko kegagalan.
PROBIOTIK BIOVISI YANG SUPPORT BIOFLOK
b. Air hitam (flok hitam) Warna air kehitaman menunjukkan kondisi lingkungan dalam kolam kekurangan oksigen. Bila terjadi air dengan kondisi tersebut, lakukan pembuangan kotoran yang ada di dasar kolam dengan cara membuka pipa pembuangan, tambahkan kapur dan aerasi yang cukup agar terjadi oksidasi secara merata dan sempurna. c. Pengadukan/aerasi tidak merata Pengadukan dan aerasi sangat penting dalam penerapan teknologi bioflok. Bila pengadukan/aerasi berhenti, biasanya terjadi endapan karena kekurangan oksigen dan tingginya kandungan karbondioksida. Bila kurang aerasi, maka dapat menyebabkan kematian ikan. Oleh karena itu, bila terjadi hal tersebut maka perlu dilakukan pengapuran 10-20 ppm untuk mengikat CO dalam air dan meningkatkan pH serta alkalinitas. Bila dalam penerapan teknologi bioflok tidak menggunakan pengadukan mekanik dan aerasi, maka sebaiknya jangan melakukan padat tebar tinggi. Kelemahan dari penerapan teknologi bioflok ini bila aerasi / pengadukan terhenti dikarenakan listrik mati dalam waktu tertentu, maka akan terjadi kematian ikan secara massal. Hal ini disebabkan terjadinya peningkatan amonia dan karbon dioksida yang cukup tinggi di dalam media budidaya ikan sehingga ikan keracunan senyawa tersebut. Langkah antisipasi :
Sediakan generator/UPS sebagai tenaga listrik cadangan.
Bila tidak tersedia generator/UPS, segera tambahkan kapur 50gr/m 3 untuk mengikat gas CO2. Bila perlu ditambahkan zeolite untuk mengikat amoniak.
d. Air bau Kasus air bau biasanya disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan, terjadinya kematian bakteri secara massal, dasar kolam terlalu kotor serta pH air rendah. Menumpuknya kotoran didasar kolam menyebabkan perombakan bahan organik secara berlebihan sehingga terjadi penumpukan amoniak yang sangat tinggi. Tindakan yang harus dilakukan yaitu mengganti air sebanyak 30%, menambah aerasi, probiotik dan molase (tetes), diikuti dengan pengapuran pada malam hari. Lakukan penyifonan dan berikan garam secukupnya (250-500 gram/m 3). e. Lele menggantung Ikan lele menggantung sebagian atau seluruhnya biasanya disebabkan oleh kualitas air kurang baik, kelebihan pakan, atau terserang penyakit baik yang disebabkan oleh bakteri maupun parasit. Sebaiknya ambil beberapa ekor untuk dijadikan sampel pemeriksaan di laboratorium, demikian juga terhadap kualitas air medianya.
f. Flok tidak terbentuk Flok tidak terbentuk biasanya disebabkan oleh bahan organic masih belum cukup, penyusun inti flok kurang, C/N ratio tidak sesuai (terlalu rendah), gangguan cuaca (hujan) dan adanya pemangsaan yang cukup tinggi oleh hewan protozoa. Mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan aerasi yang cukup, tingkatkan C/N ratio dengan penambahan molase, menutup kolam saat hujan, 3 serta memberikan garam dosis 3 kg/m . g. Flok terlalu kental Bila flok pekat, sebaiknya ikan tidak diberi pelet agar ikan memanfaatkan flok atau kurangi porsi pakan hingga 30-40% per hari sampai flok tersisa 5% saja. Bila flok terlalu kental tetapi ikan sudah lemah kondisinya, maka segera lakukan pergantian air dengan membuang air dasar dan flok yang mengendap hingga 30%. h. Pemberian molase Pemberian molase dapat menimbulkan masalah bila tidak hati-hati karena molase dapat merangsang perkembangan bakteri. Sebagai contoh bakteri Methanobacter, dapat memfermentasi molase menjadi gas metana yang dapat menyebabkan kematian ikan. Sebaiknya sebelum diberikan kedalam kolam, rebuslah molase agar bakteri mati. Saat perlakukan, berikan aerasi yang cukup. I. Nafsu makan turun Penurunan nafsu makan disebabkan beberapa faktor antara lain suhu yang rendah, pH terlalu rendah atau terlalu tinggi, kualitas air tidak memenuhi persyaratan (bahan organik terlalu tinggi). Mengatasi hal ini, segera lakukan penggantian air dan lakukan monitoring kualitas air secara berkala. j. SDM Kompetensi sumberdaya manusia masih belum memadai. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi, pelatihan, transformasi teknologi, serta pembentukan sikap mental.
CONTOH STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PRAKTIS BUDIDAYA IKAN LELE SISTEM BIOFLOK
Berikut adalah contoh standar prosedur operasional untuk budidaya ikan lele sistem bioflok di bak bulat ukuran diameter 3 m dan ketinggian air 60-80 cm untuk padat tebar 500 ekor/m3 atau (3000 ekor benih/bak, ukuran 8-9 cm).
1. Persiapan Air
Bersihkan bak dan jemur selama sekitar 12 jam (Ukuran bak : Diameter 3 m).
Isi bak dengan air sumur setinggi 70 cm (volume sekitar 3-5 m )
Hidupkan aerasi terus menerus
Pada setiap bak, masukkan secara berurut:
Kapur tohor 250 gram per bak (50 gram/m )
Kapur dolomit 400 gram per bak (80 gram/m )
Garam 10 kilogram per bak (2 kg/m3)
Biolacto 1 sendok makan penuh (sekitar 5 gram) per bak (1 gram/m3 );
Molase 500 mL (100 ml/m )
Air media siap digunakan setelah minimal 4 hari dan maksimal 10 hari
Bila lebih dari 10 hari: Masukkan dolomit 0.4 kg dan Biovisi lacto 1 sendok makan per bak
2 . Persiapan Benih
Cek kesehatan benih
Semua benih berenang lincah (tidak ada yang menggantung);
Berlendir normal (tubuh licin);
Kumis tidak putus dan sirip lengkap;
Tidak luka dan tidak borok;
Kematian ikan dalam wadah transportasi tidak lebih dari 5%.
Ukur panjang benih
Hitung jumlah benih (sampling dengan timbangan gantung kapasitas 25 kg);
Puasakan selama 24 jam, adaptasi makan 24 jam, menentukan respon makan 24 jam kemudian
Pengelolaan Pakan
Persiapkan pakan:
Larutkan probiotik Thionat 1 sendok makan penuh dalam 2 liter air;
Aduk 1 kg pakan dengan 1 gelas (250 mL) larutan probiotik;
Simpan pakan pada wadah tertutup;
Adukan pagi untuk diberikan sore, adukan sore untuk diberikan pagi;
Adukan pakan dapat bertahan sampai 5 hari atau sampai tidak ada jamur hitam/kuning;
Adukan untuk pakan pertama sekitar 2 kg, adukan selanjutnya sesuai respon makan.
Berikan pakan 2 x per hari sesuai respon makan (2-5 menit). Berikan pakan pada satu wadah hingga selesai baru pindah ke wadah berikutnya. Jeda pemberian akan menyebabkan ikanyang sudah makan memakan pakan kembali.
Pengelolaan Air Media
Identifikasi Air yang Baik
Air tidak bau
Ikan dominan berada di dasar bak atau kolom air (tidak sering muncul ke permukaan)
Air stabil berwarna kecoklatan.
Indikator Ketidak-stabilan Air
Air berwarna coklat memutih/pucat Penyebab: Kebanyakan pakan Penanganan: Kurangi jumlah pakan
Air bau Penyebab: Kebanyakan pakan Penanganan:
Buang air 30-40%
tambahkan air baru
tambahkan dolomit dan probiotik
Ikan menggerombol di permukaan atau nyembulnyembul Penyebab: Nilai pH menurun atau perubahan kualitas air lainnya Penanganan:
Buang air 30-40%,
tambahkan air baru,
tambahkan dolomit dan probiotik
Penggantian air
Pertama kali air diganti 7 hari setelah pemberian pakan normal. Air diganti sebanyak 10 – 15%
Penggantian air selanjutnya dilakukan setiap 7 hari
Setelah air penuh masukkan secara berurutan: Kapur dolomit 200 gram per bak yang dilarutkan dulu di dalam ember; Molase (yang sudah dididihkan dan didinginkan) 150 mL per bak yang dilarutkan dulu di dalam ember; Probiotik Biolacto 1 sendok teh penuh per bak yang dilarutkan dulu di dalam ember
Sebelum ganti air dan sebelum air penuh, ikan tidak diberi makan.
Persiapan Air untuk Pemeliharaan Lanjutan
Bersihkan bak yang kosong;
Isi bak dengan air dari bak yang ada ikannya (ikan sehat) sampai 15 cm;
Tambahkan air bersih sampai kedalaman 50 cm;
Masukkan pipa aerasi, berikan aerasi terus menerus;
a. Bila saat baru ditebar atau selama pemeliharaan terdapat ikan sakit, maka ikan dipuasakan ikan sekitar 3 hari; b. Bila kematian <50 ekor per hari; Buang air sekitar 40% (menjadi 35-40 cm), Tambahkan air kembali 10-20% air (menjadi 45-50 cm), Tambahkan garam 2.5 kg per bak, Tambahkan dolomit 75 gram per bak. Probiotik biolacto 1 sendok makan peres per bak. Ikan dipuasakan 24 jam. c. Bila kematian >50 ekor per hari; Buang air 100% (semua ikan mati dibuang), Masukkan air terus-menerus sampai busa terbuang Matikan atau cabut aerasi, Tambahkan air (menjadi sekitar 20 cm) bersamaan dengan Everlac 3 tutup, d. Bila kematian sudah terhitung >70%; Bak dikeringkan dan ikan dipanen; Ikan tidak disatukan ke dalam bak lain;
Pemanenan Ikan
Lakukan panen parsial bila ada kebutuhan atau permintaan pasar dan panen total setelah 90 hari;
Pada panen parsial, pilih ikan sesuai ukuran yang dikehendaki. Gunakan keranjang grading sesuai ukuran seleksi yang diinginkan;
Ikan yang tidak terpilih dipelihara lebih lanjut pada bak yang dipersiapkan: Bersihkan bak yang kosong, Isi bak dengan air dari bak yang ada ikannya (ikan sehat) sampai 15 cm, Tambahkan air bersih sampai kedalaman 50 cm, Masukkan aerasi terus menerus, Tambahkan garam 3 kg per bak, Tambahkan kapur dolomit 400 gram per bak, Tambahkan probiotik Biolacto 1 sendok makan peres; Masukkan ikan yang tidak terpilih, Puasakan ikan sekitar 24 jam, Pemberian makan seperti pada pemeliharaan.
DAFTAR PUSTAKA BSN.2000. Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) kelas benih sebari (SNI 01-6484-2000). Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. BSN. 2010. Pakan buatan untuk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) SNI 01-4087-2006. SNI Budidaya Air Tawar. Direktorat Produksi, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. Ghufran M. 2010. Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal. Penerbit ANDI. Yogyakarta. Khairuman SP, 2008. Toguan Sihombing, Khairul Amri, S.Pi,M.Si. Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal. Agromedia Pustaka. Rachmatun. S, Dra dan Suyanto. 2007. Budidaya Ikan Lele (Edisi Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta. Statistik Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2011. 2012. Statistik Perikanan Budidaya. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. Supardi Lee. 2003. Kiat Sukses Budidaya Lele di Lahan Sempit. Suprapto. 2013. Budidaya ikan lele dumbo-Dengan Menerapkan Teknologi Bioflok. Klinik IPTEK Mina Bisnis Pacitan. Jawa Timur. Surya. 2009. Kiat Sukses Budidaya Lele di Lahan Sempit. Agromedia Pustaka. Jakarta. __. 2010. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta.
Reporter : Fella Sumendap, Yadi Supyandi Cameramen : Ahmad Susanto, Dedi Effendi Penyunting Gambar : Yogya Harmoko Lokasi : Cisaat, Sukabumi Tayang : 1 September 2007 pukul 07.00 WIB
Ikan bawal air tawar atau colossoma macropomum adalah salah satu ikan unggulan budi daya perikanan air tawar. Kelebihan ikan bawal ini, ukuran badannya cukup besar, dagingnya gurih, dan tidak banyak duri. Dari sisi rasa, ikan bawal air tawar tidak kalah lezat dibanding ikan bawal air laut.
Ikan bawal air tawar ini kini banyak dibudidayakan petani ikan di Cibaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Salah seorang diantaranya Dadang Sulaiman, yang menekuni budidaya ikan bawal air tawar selama kurang lebih 10 tahun, terutama untuk pembibitan.
Kawasan Cibaraja terletak di Desa Cibolang Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan mobil selama tiga jam, melalui jalan tol Jagorawi. Setelah keluar pintu tol Ciawi, perjalanan dilanjutkan ke arah Sukabumi, menuju Kecamatan Cisaat.
Usaha yang dilakukan Dadang mulai dari pemijahan. Untuk pemijahan menggunakan indukan yang dipelihara di kolam tanah. Induk bawal ini baru dipindahkan bila akan dilakukan proses pemijahan.
Ikan ini berasal dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, dagingnya enak dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi. Sebutan lain ikan bawal adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuela), Red Bally Pacu (Amerika Serikat dan Inggris). Sedangkan di negara asalnya disebut Tambaqui. Walaupun ketenaran ikan bawal belum dapat disejajarkan dengan komoditas perikanan lainnya, namun permintaan konsumen setiap tahunnya terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Maka tak heran, bila dimasa yang akan datang akan menjadi komoditas unggulan seperti jenis-jenis ikan lainnya.
• Secara sistematika ikan bawal termasuk kedalam Genus Chacacoid dan species Colossoma macropomum. • Badan agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada di bawah tutup insang, sirip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dan merah. • Ikan bawal banyak ditemukan di sungai sungai besar seperti Amazon (Brazil), Orinoco (Venezuela). Hidup secara bergerombol di daerah yang airnya tenang. • Bawal termasuk ikan karnivora, Giginya tajam namun tidak ganas seperti piranha. Makanan yg disukai pada fase larva adalah Brachionus sp., Artemia sp., dan Moina sp. • Induk bawal sudah mulai dapat dipijahkan pada umur 4 tahun bila pertumbuhannya normal dapat mencapai berat 4 kg. • Pemijahannya terjadi pada musim penghujan.
Tahapan budi daya ikan bawal diantaranya, seleksi indukan. yaitu memilih induk jantan dan induk betina yang siap dikawinkan. Indukan bawal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari tiga tahun. Untuk induk jantan bila dipijat keluar sperma dari lubang di bawah perutnya. Sementara induk bawal betina cirinya perutnya buncit bulat dan telah matang gonad.
Pemijahan ikan bawal air tawar bisa dilakukan secara Induced Spawning, caranya induk betina disuntik hormon LHRH-a sebanyak 3 g/kg atau ovaprim 0,75 ml / kg . Induk jantan menggunakan LHRH-a sebanyak 2 g/kg atau ovaprim 0,5 ml/kg. LHRH-a dilarutkan dalam larutan 0,7 % NaCl. Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu 8-12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan penyuntikan kedua 2/3 nya. Induk yang sudah disuntik dimasukkan kedalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa. Selama pemijahan air harus tetap mengalir. Pemijahan biasanya terjadi 3 sampai 6 jam setelah penyuntikan kedua. Proses pemijahan dilakukan di kolam khusus yang dilengkapi aerator. Bawal betina terlebih dahulu diberi suntikan perangsang. Setelah 24 jam induk bawal betina akan bertelur. Setelah dibiarkan selama 2 hingga 3 jam telur diambil dan dimasukkan ke dalam aquarium. Di tempat ini telur berubah menjadi larva. Setelah memijah telur-telur diambil menggunakan scope net halus, kemudian telur tersebut ditetaskan didalam akuarium yang telah dilengkapi dengan aerasi dan water heater dengan suhu 27 - 29oC. Kepadatan telur antara 100 - 150 butir/liter, biasanya Telur-telur akan menetas dalam waktu 16 - 24 jam.
Larva dipelihara dalam akuarium yang sama, namun sebelumnya 3/4 bagian airnya dibuang. Padat penebaran larva 50 - 100 ekor/liter larva yang berumur 4 hari diberi pakan berupa naupli Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva ini berlangsung selama 14 hari. Selama pemeliharaan larva, air harus diganti setiap hari sebanyak 2/3 bagiannya. Setelah berumur 14 hari larva siap ditebar ke kolam pendederan. Larva hasil pemijahan yang berumur kurang lebih tiga puluh hari kemudian dibesarkan di kolam penampungan. Lama pembesaran di kolam ini dapat dilakukan hingga tiga bulan. biasanya anakan bawal ukuran 5 inch sudah dapat dijual. Anakan bawal ukuran seperti ini, harganya di pasaran sekitar seratus hingga seratus lima puluh rupiah per ekor.
Pendederan ikan bawal dilakukan di kolam yang luasnya antara 500 -1.000 m2. Namun kolam tersebut harus disiapkan seminggu sebelum penebaran benih. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir. Setelah itu kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 50 - 100 gram/m2 dan dipupuk dengan pupuk organik dengan dosis 500 gram/m2. Kemudian diisi air. Bila kolam sudah siap, larva diebar pada pagi hari dengan kepadatan 50 - 100 ekor/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet halus sebanyak 750 gram/10 ribu ekor larva dengan frekuensi tiga kali sehari. Pemeliharaan di kolam pendederan selama 21 hari.
Perawatannya cukup sederhana ikan-ikan yang telah di besarkan di dalam kolam permanen cukup diberi pakan pelet sehari dua kali pagi dan sore. Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.
Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m 2 . Biasanya alat yang digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan airnya selalu mengalir.
Parasit " Ich " Atau " White spot ", biasanya menyerang ikan apabila suhu media pemeliharaan dingin, cara mengatasinya yaitu dengan menaikkan suhu (dengan water heater) sampai kurang lebih 29 derajat Celcius dan pemberian formalin 25 ppm. Pada media pemeliharaannya. Bakteri. Streptococus sp. dan Kurthia sp. cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan antibiotik tetrasiklin dengan dosis 10 ppm. Kapang (Jamur) Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan penanganan ( Handling ) yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat ( PK ) dengan dosis 2-3 ppm.